Sunday, 19 February 2017

Tentang Perempuan, Patah Hati dan Kebebasan


Hari ini bukan Hari Kartini, jadi saya tidak akan membahas tentang perjuangan perempuan demi mendapat kesetaraan atau kebebasan.  Saya tidak mau membahasnya karena rasanya saya belum terlibat langsung dalam bentuk perjuangan apapun. Kali ini saya tetap akan membahas perempuan, namun dari sisi menye-menye.  Apalagi kalau bukan kasus-kasus anak muda macam cinta(cinta asli, bukan Cinta di film AADC yang sedang hits), patah hati dan hal remeh temeh lainnya.
            Jika dipikir-pikir, perempuan itu makhluk Tuhan yang paling bodoh. Bagaimana tidak, 9 dari 10 temanmu pasti pernah mengeluh dengan mengucapkan “cowok tu kayak tai” atau “masa gue marah dia malah ikutan marah” atau yang lebih parah “dia yang salah gue yang diomelin, ujung-ujungnya gue yang minta maaf” , sudah mengeluh habis-habisan dan tau kalo para laki-laki itu kaytay tapi masih tetap saja dipacari. Belum lagi kalo diberi saran untuk putus, pasti jawabannya “tapi gue masih cinta sama dia”. Aduh, rasanya saya ingin sekali berteriak “Neng, nih baygon siap ditelen!” di kuping perempuan-perempuan yang senang mengeluh seperti itu.Perempuan juga cenderung senang dibohongi dan susah ditebak apa maunya, hal ini kiranya memang sudah menjadi rahasia umum di galaksi milkyway. Lebih lanjut lagi perempuan itu sangat cemburuan. Para perempuan nampaknya paham betul dengan konsep homo homini lupus-nya Thomas Hobbes, perempuan adalah serigala bagi perempuan lainnya. Setiap perempuan curiga dengan perempuan lainnya, seolah perempuan lain akan mengambil apapun miliknya meskipun hal yang dia miliki berpotensi melukainya.
Ketika saya mengamati pola prilaku aneh teman-teman perempuan saya, ternyata kebanyakan perempuan itu memang senang disakiti, semakin disakiti maka rasa sayang, obsesi dan ambisinya malah semakin menjadi-jadi. Para perempuan diam-diam menikmati rasa sakit hati. Saya tak tau pasti apa penyebabnya, entah karena perempuan itu memang sudah baperan sejak orok atau ada pengaruh dari drama korea dan sinetron menye-menye yang menyajikan dunia yang hyperreal. Apabila ada tesis yang mengatakan “perempuan itu selalu benar dan maunya menang sendiri” itu tidak sepenuhnya benar, buktinya masih banyak perempuan yang rela menanggung luka batin gara-gara sering disakiti dan tetap bertahan demi ce-i-en-te-a, cinta.  Selain bodoh ternyata perempuan itu punya hal lain yang bisa menjadi boomerang, perempuan itu lembut dan pemaaf. Coba saja buat dia menangis sejadi-jadinya, lalu sejam kemudian cobalah kalian para laki-laki merayu dan meminta maaf pada para perempuan, saya yakin – haqul yaqin, jika perempuan akan  dengan mudah memaafkan salah kalian para kaum adam.
Sebenarnya, yang selalu jadi penyebab utama bumi percintaan gonjang-ganjing adalah perkara “kebebasan”. Para laki-laki ingin hidupnya dilimpahi cinta namun tetap bebas kongkow nonton bola tengah malam, clubbing sampai pagi, atau bergaul dengan teman-teman yang seksi. Namun sayangnya, perempuan akan nyereweti sampean dengan alasan cinta, perempuan cenderung possesif dan memegang teguh prinsip “what’s mine is mine”, perempuan akan mendadak bertaring serigala ketika tahu sang pacarnya chatting dengan teman perempuannya.  Begitupun sebaliknya, laki-laki akan ngambek jika tahu pacarnya chatting dengan laki-laki lain, ngambek jika pacarnya lama membalas line, BBM atau WA darinya. Laki-laki pun biasanya suka mendadak sinis dengan teman laki-laki pacarnya yang goodlooking.  Laki-laki maupun perempuan sama-sama mirip warga yang harus melapor 1x24 jam pada ketua RW setempat, setiap pasangan harus tau posisi masing-masing sedang berada dimana, dengan siapa, sedang apa, sudah makan atau belum, nanti pulang jam berapa dan sederet pertanyaan lainnya.
Sejuta masalah yang berakar dari satu induk perkara yaitu ‘kebebasan’ kiranya bisa diselesaikan dengan dibantu oleh konsep kebebasan yang ditawarkan Jean Paul Sartre. “Manusia terkutuk bebas” begitu kira-kira bunyi dalil dari tuan Sartre. Manusia menikmati kutukannya untuk menjadi bebas. Manusia bebas berfikir, bebas bertindak namun jangan lupa manusia pun tidak pernah terbebas dari tanggung jawab. Jika belajar dari tuan Sartre, artinya kita perlu membebaskan pasangan kita karena memang pada hakikatnya semua manusia itu bebas. Tak ada yang lebih menyedihkan dari kebebasan yang dikebiri.
Pada akhirnya, mencintai seseorang dengan segala kelemahannya adalah hal yang termudah yang bisa dilakukan, namun mencintai seseorang dengan segala kemerdekaannya? Kita coba sama-sama buktikan saja, apakah memang benar ada cinta yang merdeka atau cinta memang harus hadir dengan syarat melepas ‘kutukan kebebasan’.



PS: geli ya pake saya-saya-an. 

Friday, 29 April 2016

Hantu

Hantu-hantu itu akan selalu ada
Berbisik, mengusik
hantu-hantu itu akan selalu berpesta dalam kepala
Bangsat!
Mereka terus tertawa
Mereka tak pernah  paham rasa

Sejuta kali kau rapalkan mantra
Takan jadi soal bagi mereka
Mereka mengada
Terus mengganda dalam jiwa

Kau
Kau perlahan dibunuh oleh isi kepalamu sendiri
Kau
Kau masih  disekap oleh rasa takutmu
Kau
Kau terus terjebak dalam parade ilusi

Kau, kau dan kau
Kita semua layak mati


Sunday, 28 February 2016

Glorious Sadness

Ma, it’s almost a year since you passed.  You know, i can’t stop  crying. You must be upset if you see your girl cries a lot, a lot.  Why you leave me in this such a situation?  Ma, i can’t handle it. It’s too hard to survive.

I hate people.

I hate to see people leave, i hate to see people getting hurt.



I feel sorry for myself.



Ma, i want you back. I want you to be here.  Watch me – watch us grow up. 

Saturday, 13 February 2016

Read Me When You're 17

Untuk Ajeng dan Alma.

Aku harap kalian akan membacanya setelah kalian dewasa.

     Kalian tahu, meninggalkan kalian sendirian di rumah bukanlah pilihan yang mudah. Kadang aku merasa menyesal kenapa aku harus pergi sejauh ini, membuatku tidak bisa melihat kalian tumbuh setiap hari.  Aku menulis ini bukan karena aku merasa kasihan pada kalian, tapi  karena aku tahu kalian berdua jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan aku.

    Menyenangkan rasanya melihat kalian masih bisa tertawa setelah kalian melewati  hal tersulit dalam hidup kalian. Hal yang perlu kalian ingat adalah, mama selalu ada mengawasi kita bahkan ketika ada ditempat paling gelap dan sempit sekalipun. Maka, kalian tidak perlu khawatir dengan diri kalian. Tumbuhlah menjadi perempuan-perempuan yang kuat, cantik, selalu jujur pada diri sendiri, selalu ceria, dan bersedih lah sewajarnya. Kuat bukan berarti tidak pernah menangis, kuat bukan berarti tidak pernah marah. Bagilah rasa sedih kalian denganku, atau dengan siapapun manusia yang kalian percaya. Buat hari-hari yang kalian jalani menyenangkan, buatlah kenangan-kenangan yang bisa membuatmu tertawa kelak jika kalian mengingatnya, karena apa yang kalian rasakan hari ini akan membantu membentuk diri kalian yang sesungguhnya di kemudian hari.

Tidak ada orang yang aku sayangi lebih dari kalian.


Jangan berusaha menyenangkanku dengan menjadi apa yang aku mau. Hidup lah seperti apa yang kalian mau, dan buat aku bangga dengan pilihan kalian.  Tumbuh lah dengan  bahagia.

Thursday, 14 January 2016

Officially 20!

Hari ini aku bangun, dan mendapati diriku bertambah usia. Lucu rasanya, sedikit getir. Tidak ada kue tart yang manis, tidak ada lilin-lilin yang bergoyang padam karena tertiup angin yang keluar dari mulutku, kado-kado berpita cantik pun tak nampak batang hidungnya. Tak apa, itu bukan perkara besar bagiku. 
Orang semakin bertambah tua semakin banyak tanggung jawabnya, semakin banyak pula yang dicemaskan. Oleh karena itu, tak banyak yang aku inginkan untuk hadiah ulang tahunku kali ini. Aku hanya ingin ketenangan hidup, itu saja sudah cukup. Jauh dari rasa cemas takut mati, takut masa depan, takut miskin, serta takut tersakiti.
Dan satu lagi, aku ingin menggugat Tuhan atas hidupku yang berantakan, getir, hitam pekat seperti air comberan yang tercampur limbah pabrik tekstil. Tak lupa, agar tak kurang ajar, agar tak jadi anak yang tak tau diuntung, aku juga bersyukur  karena di tengah hidupku yang tak berbentuk aku masih bisa melihat ternyata masih banyak orang yang sayang padaku, aku masih bisa tertawa terbahak-bahak.



Selamat ulang tahun, untukku. 

Monday, 5 October 2015

Waktu, Sialan Kamu!

Waktu, anjing memang waktu. Dengan durasi yang begitu singkat duniaku jungkir balik dibuatnya.

Pertama, kematian mamaku. Kedua pernikahan papaku dengan perempuan yang namanya sama dan rupanya hampir serupa dengan mamaku.

Anjing memang waktu. Besok apa lagi? Aku yang mati lalu pacarku kawin dengan perempuan yang serupa denganku?

Sialan memang waktu, mbo ya ngasih aba-aba dulu gitu lho kalo mau menjungkirbalikan dunia seseorang. Jangan langsung main eksekusi. Untung aku ngga jantungan.


Waktu, sialan kamu!

Monday, 29 June 2015

Yogyakarta

Kuliah jauh dari rumah bikin hidup gue mendadak jadi perhatian temen-temen gue. Padahal, hidup gue ya gak jauh-jauh amat bedanya, masih sama aja kayak pas tinggal di Bandung. Gue masih doyan ngeluyur, pulang malem, jajan icip sana sini. Bedanya gue sih ya gue tinggal di Jogja yang notabene adalah destinasi  wisata. Temen-temen gue pikir enak banget bisa kuliah di Jogja,  enak sih, apa-apa murah, orangnya ramah tapi pendatangnya kadang suka gak tau diri, terus temen-temen gue kadang suka iri gara-gara gue kuliah di UGM, kampus bagus berlokasi bagus pula. Enak sih kuliah di UGM, murah kalo dibanding kampus swasta (program reguler lho ya, bukan IUP), tapi ada gak enaknya juga sih kuliah di UGM, minim cowok ganteng HAHAHAHA  terus ya gitu bosen sama makanan kantinnya yang itu-itu aja, terus apa lagi ya mmm... kampus gue, ya Fakultas Filsafat tercinta yang isinya cuma orang-orang itu aja, pelajarannya pusing tapi asik. Akses di jogja juga susah sih kalo gak ada kendaraan pribadi, disini kan Cuma ada trans Jogja, itu pun shelternya terbatas Cuma di jalan-jalan protokol aja. Terus siapa bilang idup di jogja tuh santai, ya santai buat yang liburan doang. Ada yang musti lo tau, jumlah lampu merah disini  melebihi jumlah jari tangan ditambah jumlah jari kaki dikalikan dua. Hampir di setiap persimpangan pasti ada lampu merah, artinya kalo elu kuliah atau tinggal di sini mesti perhitungin waktu, jadi ngga bisa santai sama sekali.  Enaknya Jogja apa lagi yaa, mmm Jogja tuh lokasinya ada di tengah pulau jawa nah itu memudahkan akses kesana kemari dengan catatan lo punya duit segambreng. Kalo gak punya duit jangankan mau ke luar kota mau ke luar Ring Road aja suah.
Gak kerasa, gue tinggal di jogja udah hampir setahun. Masa-masa maba udah lewat. Yeay !! Dulu masih bingung-bingung sama daerah kampus, sekarang sambil ngerangkak tutup mata pun gue bisa hapal jalan. Ya sekitaran kampus sih lumayan hapal, kaya Sagan, Jalan Kaliurang, Demangan, Gejayan, Timoho, Selokan Mataram, Babarsari, Condong Catur, Sudirman, Kota baru, Malioboro, Tugu, Jalan Magelang, sampai Jalan Godean inshaallah gue hapal, jadi kalo ada yang nyulik ke daerah sekitaran itu gue masih tau arah jalan pulang hahaha. Taun ini juga taun pertama gue menghabiskan setengah bulan Ramadhan gue di Jogja. Gila ya, di jalan Notonogoro bundaran soshum UGM kalo sore mendadak jadi surga makanan, gue sampe kaget ternyata ada yang jualan seblak khas Bandung, sampai Cai Kwe ala ala Pontianak Singkawang. Lo kalo ke pasar kaget Ramadhan sebaiknya bawa duit yang banyak deh biar puas jajan. Cuma ya ati-ati aja jarum timbangan elu nikung ke sebelah kanan.
Kangen Bandung sih gue, tapi males pulang. Gue semacam males ketemu orang-orang gak jelas yang sibuk ngajak hangout bla bla bla. Gue pengennya ke Bandung Cuma ketemu Papa, adek-adek gue, keluarga gue, sahabat gue. Udah. Males aja gitu ngumpul-ngumpul gak jelas, ngabisin waktu. Mending gue jagain ade gue. Sedih sih taun ini lebaran mama gak bisa masakin gue opor ayam, ya artinya gue gantiin posisi mama buat nyiapin tektek bengek ala ala lebaran. Riweuh kesana kemari nyari ini itu. Ya gimana ya gue mah seneng aja, naluri ibu-ibu gue juga udah kenceng banget sih hahaha soal belanja doang tapi-kalo masak sih bismillah aja deh lo kalo nyicip masakan gue, salah salah masuk rumah sakit.

Well sebenernya gue Cuma pengen review aja hidup gue selama setahun di Joja, dari yang tadinya males makan sekarang rajin makan gara-gara sempet tipes eh tiffus-eh gimana sih nulisnya ?, terus berat badan gue naik hampir 7 kilo, gue jadi rajin bebersih-kamar gue selalu rapih, lebih sering pacaran soalnya udah gak LDR, lebih jauh kalo main-bisa sampe solo atau semarang, hidup lebih hemat-royal kalo pas weekend doang itupun dibayarin bang Adis, harusnya sih gue lebih dewasa karena harus gantiin mama jagain ade gue-meskipun harus jagain dalam jarak yang cukup jauh. Udah sih itu doang perubahan yang terlihat mata selama setahun ini, yang gak keliatan mata sih ya ada, cukup banyak juga, cuma ya itu cukup gue dan teman-teman terdekat gue yang tau. Ya intinya taun ini gue banyak banget kehilangan, banyak juga yang gue dapet. Seimbang lah. Gue juga ngga bisa terus-terusan nyimpen apa yang gue punya, toh ada waktunya sesuatu itu pergi, hilang atau rusak. Disamping ala ala drama sedih sesuatu yang membahagiakan bak cerita putri-putri di film Disney juga pasti ada aja. Baik atau buruk, semuanya bikin kita belajar, belajar lebih kuat, lebih siap menghadapi kenyataan, lebih siap menuju hidup yang lebih baik. 

Wednesday, 24 June 2015

Semacam Rindu

Aku merindukan sesuatu
Tentu saja sesuatu yang tidak ada di depan mata
Jika ada, bukan rindu namanya

Lucu ya,
Rindu itu seperti candu
Sakit-sakit enak
Cinta dan patah hati dirasakan dalam satu waktu

Ketika kamu lapar, kamu harus makan agar terpenuhi hasratmu untuk menelan sesuatu
Jika rindu ? Rasanya bertemu saja tidak cukup melepas rindu
Berpelukan pun dirasa masih kurang
Bahkan mungkin bersetubuh pun tidak akan menghapuskan rasa rinduku

Aku baru bisa menghapus rinduku jika kita menyatu di luar ruang dan waktu


Monday, 25 May 2015

I Want to Write and I have Nothing to Tell You - Voltaire

     Gue pengen nulis, tapi gue ngga tau apa yang harus gue tulis. Kadang hal-hal yang sifatnya omong kosong pun gue tulis. Kepala ini kayak mau pecah setiap ada hasrat duduk manis di depan komputer cuma buat sekedar "menulis". Dalam situasi kayak gini, gue menyerahkan semuanya pada jari tangan, karena gue yakin ada saat dimana jari tangan lebih mampu menyampaikan apa yang mengendap di dalam otak ketimbang mulut. Tapi kegiatan "mengatakan" hal yang tak bisa dikatakan itu membuat suatu kesenangan tersendiri buat gue, semacam ekstasi yang tidak dapat elu capai dengan makan satu liter eskrim vanilla. Entahlah, gue rasa itu hanya keyakinan yang lagi-lagi cuma omong kosong dan sangat irasional.  Apalagi kalo gue inget-inget, gue cuma sekedar mempublikasikan tulisan diinternet yang kemungkinan hanya dibaca 1 atau 2 orang aja, bahkan orang itu sama sekali ngga gue kenal. Gue ngga pernah tau siapa aja yang pernah baca tulisan gue kecuali beberapa teman-teman gue yang senang melapor. 

     Ada banyak hal yang gue tulis di blog ini, terlebih gue menulis sudah terhitung lama, sejak umur gue 14 tahun. Gue menulis apapun yang gue suka, yang gue ngga suka, puisi, curhat basi, dan mungkin nanti gue akan menulis tentang pengalaman seks pertama gue.  Ya begitulah, kebanyakan memang ngga penting, hanya wacana-wacana ringan sehari-hari. Semuanya gue tulis secara random, benar-benar random seperti hidup gue. Gue juga ngga pernah niat menulis cuma buat orang lain terkesan, apalagi membuat mereka merasa tertarik sama hidup gue yang biasa saja. Gue tidak berusaha mengesankan orang lain dengan berusaha memamerkan kosmetik-kosmetik, baju, tas, sepatu yang mahal, karena gue emang ngga sanggup beli. Gue juga ngga berusaha untuk menciptakan kesan bahwa gue seorang traveller yang sudah pernah berkunjung ke tempat-tempat eksklusif bahkan primitif. Gue juga ngga berusaha mengesankan bahwa hidup gue mewah dengan menunjukan foto-foto makanan lezat hotel bintang lima, bistro paling hits di kota ini atau hanya memamerkan cup kopi bergambarkan perempuan berwana hijau yang harga satu gelasnya bisa untuk biaya makan gue selama dua atau tiga hari. Gue hanya menuliskan pengalaman yang mengendap di otak gue, dan bahkan ada beberapa pengalaman yang pernah gue tulis tapi sekarang gue ngga ingat pengalaman itu.

     Selain menulis, gue juga sangat senang membaca blog. Blog orang lain tentunya, karena kadang gue suka merasa geli sendiri memca tulisan-tulisan di blog ini. Membaca bagi gue sama susahnya seperti menulis.Kita harus menyerahkan separuh kesadaran kita untuk menukarnya dengan kesadaran orang lain.  Ada beberapa blog yang gue suka, mulai dari blognya Pinkadela-mahasiswa fakultas sebelah, Evita Nuh-Fashion Blogger cilik yang gue rasa dewasa sebelum waktunya, hingga blog istrinya Ernest Prakasa. Mereka menuliskan apapun secara random, tapi seolah-olah mereka mendedikasikan hidup mereka untuk terus menerus berpikir secara serius.

   Bagi gue, menulis seperti mengkliping pengalaman. Bukan cuma menyimpan gue juga melemparkan umpan di tengah lautan internet.  Kadang ini terasa menyakitkan, memalukan, memuakan sekaligus mengerikan, melepas endapan-endapan pikiran dalam otak untuk diserahkan ke orang asing. Berpisah dengan mereka. Tapi bukannya emang gak pernah ada orang yang siap dengan perpisahan ?

Tuesday, 5 May 2015

Gabut Pangkal Iseng

     Well guys, di tengah kegabutan yang luar biasa hikmad ini gue bener-bener bingung mau ngapain, nulis juga bingung mau nulis apa. Start from this morning, biasanya gue bangun super pagi dan langsung mandi, tapi tadi snoozed alarm sampe beberapa kali dan itu pun ngga langsung mandi, apalagi nyiapin sarapan. Too lazy. Nyampe kampus dengerin dosen, setelah berhasil beresin dua SKS matakuliah Filsafat India gue langsung balik ke kost, tidur sejam, bangun tidur makan, terus cabut lagi ke kampus sampe sore, terus pulang dan gabut lagi. Konstan abis. Lempeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng banget rasanya idup gue, semacam kurang piknik. Ya sebenernya tiap weekend ada aja gitu jalan kemana sama pacar gue, tapi kan itu kencan meen bukan piknik. Berhubung jogja tuh  ngga terlalu gede (kotanya loh ya, mbantul dan sekitarnya ra melu diitung) jadi berasa hampir semua tempat udah pernah gue datengin sama pacar gue. Sampe perpustakaan design (namanya IVA kalo ngga salah) yang sempal sempil dalem gang aja udah pernah kita datengin. Mall ? We both gak begitu suka atmosphere mall yang setiap sudutnya pasti rame (bahkan toilet sekalipun), kami lebih suka duduk-duduk ngopi (dia doang yg ngopi gue pasti pesen yang laen), atau kalo ngga suka banget nyatronin Bentara Budaya Yogyakarta cuma buat sekedar ngisi buku pengunjung pameran hahaha atau iseng ujan-ujan ke Malioboro cuma buat nyari onde-onde sama kacang rebus (Pacar gue semacam obses parah sama yang namanya kacang dan onde-onde), enak banget sih emang onde-onde tuh, apalagi kalo masih anget. nyam :9. Akhir-akhir ini ada kegiatan yang lebih iseng sih, di Jogja kan banyak banget fast food lokal tuh, kami inisiatif buat nyoba satu-satu dari mulai Olive, Popeye sampe Super Chicken yg iconnya mirp Superman sementara ini sih rasa masih dipegang sama Superman, ayamnya kek enak banget gitu garing luar dalem, dan tepungnya enak banget. Kalo Popeye ayamnya lebih mirip McD dalemnya bash gitu. Gue rada kurang suka. Terus kalo makan ayam tuh di tambahin merica, gue sih suka banyak-banyak makan merica, sampe saos sambalnya pun gue campur pake merica hahaha Pacar gue kasian ngga bisa makan merica banyak-banyak, pasti langsung mules-mules gitu abisnya. Eh iya, gue ngga ngerti ya nama-nama yang dipilih sama owner fast food ini, kayak semacam perang dingin gitu ngga sih, branding produk mereka dengan nama tokoh dari serial kartun yang sama, Olive, Popeye, dan ada Brutus (gue waktu itu nemu di daerah kampus UTY kalo ngga salah) kocak sih.
    Bosen banget gue rasanya tiap hari makan ayam mulu, disini jarang banget ada yang jual sayur bening, paling harus masak sendiri. Semacam kurang gizi gue disini pfffffft eh tapi gue gendutan deng, efek makan ayam mulu kali ya. Dan jarang olah raga. Itu pointnya. Niatnya sih tiap sore jogging, tiap bangun pagi sit up, ah hanya sebatas wacana. Badan gue sampe klemer-klemer disini, ih lemak dimana-mana. Perut tambah buncit ngga kaya duluuuu (lalu harus aku apakan tshirt-tshirt ukuran XSku ?). Pas di Beronica sih masih mending kan, tiap ngontrol ke lapangan bisa pecicilan, lah disini ? keringetan bukan karena gerak tapi karena gerah. Apalagi kalo udah dikost pacar gue, maleeeeees banget mau ngapa-ngapain, cuma mainan hp atau nonton film, atau kalo udah bosen gangguin pacar gue yang lagi kerja, kalo dia belum ngamuk gue belum berenti gangguin dia hahaha
    Eh by the way, makanan di deket tempat pacar gue tuh enak-enak (Gue identifikasi sih ini juga salah satu faktor gue gendutan),baksonya enak banget, gado-gado sama loteknya juga, martabaknya apalagiiiiiii beeeeeeh juara, meleleh di lidah. Nah sampahnya pacar gue hobby banget beliin gue martabak (tapi ujung-ujungnya dia yg ngabisin). sumpah sumpah ya itu THE BEST MARTABAK IN TOWN (tapi kalo dibandingin sama nutellaria tetep kalah sih, apalgi choco almondnya bikin timbangan nikung ke kanan eh nutellaria cuma menang di toping doang sih), njir nulis beginian jam segini bikin gue laper :( Martabaknya juga ngga semahal nutellaria sih, terus deket kost dia juga ada sate klatak, ada soto Kung Ndut, menurut gue itu soto kedua terenak setelah Soto Hollywood yang berada nun jauh diatas jakal KM.13 sana. Ya intinya berat badan gue naik karena pola makan gue yang amburadul. Hemoglobin gue rendah gara-gara kurang makan sayur. Badan gue gemukan tapi malah tambah lemes. Payah.

     Jadi inti dari semua tulisan panjang kali lebar ini apa ? NGGA ADA hahahaha ya intinya sih, pake waktu sebaik mungkin, makan sesehat mungkin, jaga kesehatan intinya hindari pola hidup seperti gue HAHAHAH demi masa depan yang indah meeeeen. You know lah sehat itu mahal dan sakit itu buang-buang waktu.

Tuesday, 21 April 2015

Love Never be a Simple Thing

     Hi people, how's life ? Hope world always treat you right. My life was so complicated since a week ago.
Yeah, you're right. Nothing better to do than writing on my own blog when my feeling was so terrible, post it, share it, and let them know what happened.

     Well, i went to Semarang about 3 days ago, that's my friend's birthday celebration. Okay, there's no celebration like partying, drinking or something near that. We just took a walk around Semarang, visited some places. We went to Sam Poo Kong Temple, Lawang Sewu, Umbul Sidomukti, Gedong Songo Temple and Rawa Pening Lake. Yeah we just do that. Wait, the worst is yet to come.
     One day before i left, my boyfriend was angry with me, he got jealous hahaha. So i decided to cancel to go with them, but my boyfriend told me that i could go with them. So i left him stay in Jogjakarta. But suddenly he mad at me when i check in on path because i didn't tag my friend's name. WTFrog. Oh God. Like, are you kidding me ? Well i guess it's not that serious. So i explained to him, and he could undestand.
I dont know what's really on his mind, but he didn't need too much time to get angry with me (AGAIN). He line me that he want to broke up with me if i can't explain every single littlie thing i did.  So, i told him everything, explained everything but he just dont understand. That's completely makes me crazy. Now he just didnt talk to me for a couple days. I'm sad, but i try to understand, how did my relationship with him go wrong ?


    Guys, love is not a simple thing. And it will never ever be a simple thing  if you cant trust someone you love.
You know that to understand something and to put that into a form you can see with your own eyes is completely different thing. All you need to do is believe. Believe that he or she loves you, even they're a million miles away. And you can believing with your heart, with  everything you feel, not only with your eyes and what you see.

Monday, 9 March 2015

The Truly Sad Story

Hari ini duniaku runtuh
Mataku gelap seperti dunia ini tak bermentari
Hatiku ? Jangan tanya hatiku, mungkin sudah tak berbentuk lagi

Pagi ini, tepat pukul 4 dini hari
Aku melihat wanita cantik yang aku panggil mama seumur hidupku terbujur kaku
Pilu hatiku

Ibu yang melahirkanku pergi beristirahat
Aku tahu, selama ini ia lelah menahan letih
Lelah menahan sakit
Berusaha keras agar tak mengeluh

She's the strongest women in the whole wide world
Menyimpan rahasia yang menggerogoti tubuhnya
Menyimpan sakitnya sendiri

Wanita cantiku beristirahat sejenak
Menanti waktu kami semua berkumpul kembali tiba
Wanita cantiku menyandarkan lelahnya dengan begitu anggun
Menyisakan nama harum

If everything has been written down so i dont have to worry
Tak pernah ada yang tahu kapan datangnya waktu itu
Mama, wanita cantiku telah menemukan arti hidupnya
Semoga mama bahagia disana

Kami semua selalu sayang mama.

Tuhan, aku titip wanita cantikku.





Sunday, 15 February 2015

Virginity

    Soal "perawan" dan "tidak lagi perawan" merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dalam masyarakat indonesia. Kultur yang kuat mencap bahwa seorang gadis "wajib" menjaga keperawanannya membuat subjek ini sering disingkirkan dari topik pembicaraan. Padahal tidak sedikit perempuan indonesia memutuskan untuk melepas keperawanan mereka. Tidak usah jauh-jauh, mungkin teman sebangkumu, teman satu kostmu, atau bahkan kakak dan adik perempuan mu.
    Menjadi seorang perawan atau tidak, itu adalah hak mutlak setiap individu. Karena pertama, yang untung dan yang dirugikan adalah individu itu sendiri, yang kedua seksualitas adalah hak mutlak yang diberikan kepada manusia, setiap orang berhak memutuskan kapan dia akan aktif berhubungan seksual.  Terlepas hal itu baik atau buruk dalam norma dan nilai yang mereka anut.
    Ada beberapa orang bercerita dengan gamblang menceritakan kehidupan seksualnya di media sosial, contohnya temanku. Sebut saja Lara dan Vero. Mereka menceritakan prefensi seksual yang mereka miliki, sebuah aksi yang termasuk berani untuk dilakukan di Indonesia.

Mereka Terlihat Sama

    Jam menunjukan pukul 19.30 WIB, aku datang dengan berjalan kaki ke sebuah coffee shop dekat rumahku. Disana Lara dan Vero sudah menungguku, dengan dua cangkir kopi yang baru saja tiba di meja mereka. Roko ditangan kanan Vero sudah tinggal setengah, menandakan dua gadis manis ini belum lama menunggu.
    Awalnya kami bertemu hanya sekedar ingin melepas rindu, karena rasanya kami sudah sangat lama tidak bertemu. Setelah aku pergi kuliah di Jogja dan mereka tetap memilih kuliah di Bandung. Tak pernah sedikit pun melintas di benak saya sebelumnya untuk membicarakan hal tabu ini.
Kami berkelakar sambil menunggu pesananku datang, mereka terlihat sama. Terlepas dari gaya rambut, dan penampilan mereka. Gaya bicara mereka masih sama seperti saat aku pertama berkenalan dengan mereka di bangku SMA dulu. Mereka masih sama menyenagkannya. Ditemani 2 cangkir kopi dan secangkir teh pesananku, percakapan malam itu dimulai.

Teman Menerima, Keluarga Bertanya "Kenapa Kamu Melakukannya?"


    Ketika ditanya bagaimana tanggapan orang-orang dekat atas pilihan yang mereka ambil mereka menjawab senang karena mereka hidup di lingkungan pertemanan yang menerima mereka apa adanya. Namun sikap keluarga mereka bertolak belakang, kebetulan dua gadis manis ini bersal dari keluarga yang amat sangat konservativ.
"Keluargaku awalnya tidak tahu, tetapi mereka tetap punya cara. Terutama mama ya, wanita yang sudah menikah dan punya anak bisa tahu. Tentu saja mereka tidak menerima, tapi melihat mereka tidak meledak saja sudah sangat mengejutkan bagiku. Setelah orang tuaku tahu, berat rasanya. I love them, tapi aku juga lega. Setidaknya sekarang sudah tidak ada lagi hal yang ditutup-tutupi. Mereka hanya akan protes tapi tidak lagi bertanya."

    Cerita Lara lain lagi, kultur keluarganya membuat mereka tidak pernah membicarakan tentang seks sama sekali. Meski mereka sudah tau namun mereka memilih diam dan tak hirau pada fakta bahwa Lara aktiv secara seksual dan memiliki kecendurangan biseksual.
Di keluarga vero, adik dan ibu dialah yang palin vokal menyuarakan pendapat mereka.
"Bahkan adikku pernah bertanya apa aku dibayar agar aku mau melakukan seks. Sementara mamaku, well aku tau kadang dia berani mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin dia katakan. Terlepas dari reaksinya, meraka memang lebih nyambung diajak bicara soal ini."
Hal yang sama terjadi pula pada Lara, adik perempuannya mampu menerima dia. Dibanding kedua orang tuanya yang sama sekali tidak bisa diajak bicara. Adik perempuan lara lebih santai ketika Lara bersikap terbuka padanya.
"Aku terbuka sama adeku setahun lalu. Setelah aku beri tahu bahawa aku juga suka perempuan dia hanya tertawa lalu pergi ke dapur dan kembali membawa sebotol coca-cola. Lalu barulah dia bertanya "kok bisa sih?"."

Menjaga Diri tidak Sama Artinya Dengan Tidak Berhubungan Seks Sama Sekali

    Setelah meatikan rokok terakhirnya, Vero tiba-tiba berkata "For the record, aku sangat menghargai orang yang menunggu sampai menikah untuk berhubungan seks. Tidak ada orang yang layak kapan seorang individu bisa aktif secara seksual. Orang itulah yang tahu kapan dia merasa siap. Keputusanku untuk melepas perawan sebenarnya di dasari alasan yang cukup sederhana. We loved each other, dan aku percaya bahwa keperawanan bukanlah sesuatu yag harus diagungkan sebagai mana tuntuna masyarakat. Setelah kejadian itu berakhir, rasa cinta menghilang, hidupku terus berjalan. Keputusan itu juga tidak terlalu mengubah hidupku, hanya saja aku sedikit khawatir karena belup pernah cek Pap Smear. Aku terlalu malu untuk pergi ke klinik."
    Ada poin menarik yang Vero sampaikan dalam surel-nya. Kata-kata ini bahkan terasa sangat emosional tanpa harus ia ungkapkan lewat kata-kata secara langsung. Respon emosional terasa langsung saat aku tidak sengaja menanyakan apa tanggapannya tentang cap "bekas pakai" atau "bisa tidur dengan siapa pun" yang disematkan pad gadis yang sudah tidak perawan lagi.
"That's absolutely rubish ! Menjaga diribukan berarti tidak berhubungan seks. Menjaga diri berarti memelihara jati diri. Mau berpikir tentang apa saja yang kita inginkan, dan berani mengambil keputusan berdasarkan pemikiran itu. Stop mempermasalahkan kami yang sudah tidak perwan lagi, We're not filthy animals and we're not less of human being just because we have it."

"Sejelek Apapun Seseorang Menurut Nilai yang Kamu Anut, Mereka Layak Mendapatkan Ruangnya Sendiri."

Itulah Jawaban Lara ketika ditanya mengenai tanggapannya tentang stigma yang sering ditujukan padanya karena terbuka soal kehidupan seksual yang ia lakoni. Menurut orang indonesia membicarakan orang di belakang tidaklah sesuai dengan nilai religius yang dipegag erat selama ini.
"Sometimes their attitude is not in line with their religiousity, not in line with wath they believe in, not in line with what they've been doing. And i think that's the thing you should work on first"
Jawaban vero bahkan menggelikan. " Ini kayak Marshanda buka jilbab ngga sih? Kayak udah pada masuk surga aja semuanya. Kembalilah ke jalan yang benar. What is the right way ? Come on, take me to it!"

   Waktu sudah menunjukan pukul 00.12 handphone di meja bergetar. Ibu Lara menelpon menanyakan keberadaan anak gadisnya yang belum kunjung pulang. Kami mengakhiri pertemuan ini dengan pelukan ala teltubies.
Bagi saya mereka tetap gadis periang seperti yang saya kenal 4 tahun yang lalu, hingga perbincangan aneh ini berakhir aku tetap merasa mereka tak berubah.