Sunday, 19 February 2017

Tentang Perempuan, Patah Hati dan Kebebasan


Hari ini bukan Hari Kartini, jadi saya tidak akan membahas tentang perjuangan perempuan demi mendapat kesetaraan atau kebebasan.  Saya tidak mau membahasnya karena rasanya saya belum terlibat langsung dalam bentuk perjuangan apapun. Kali ini saya tetap akan membahas perempuan, namun dari sisi menye-menye.  Apalagi kalau bukan kasus-kasus anak muda macam cinta(cinta asli, bukan Cinta di film AADC yang sedang hits), patah hati dan hal remeh temeh lainnya.
            Jika dipikir-pikir, perempuan itu makhluk Tuhan yang paling bodoh. Bagaimana tidak, 9 dari 10 temanmu pasti pernah mengeluh dengan mengucapkan “cowok tu kayak tai” atau “masa gue marah dia malah ikutan marah” atau yang lebih parah “dia yang salah gue yang diomelin, ujung-ujungnya gue yang minta maaf” , sudah mengeluh habis-habisan dan tau kalo para laki-laki itu kaytay tapi masih tetap saja dipacari. Belum lagi kalo diberi saran untuk putus, pasti jawabannya “tapi gue masih cinta sama dia”. Aduh, rasanya saya ingin sekali berteriak “Neng, nih baygon siap ditelen!” di kuping perempuan-perempuan yang senang mengeluh seperti itu.Perempuan juga cenderung senang dibohongi dan susah ditebak apa maunya, hal ini kiranya memang sudah menjadi rahasia umum di galaksi milkyway. Lebih lanjut lagi perempuan itu sangat cemburuan. Para perempuan nampaknya paham betul dengan konsep homo homini lupus-nya Thomas Hobbes, perempuan adalah serigala bagi perempuan lainnya. Setiap perempuan curiga dengan perempuan lainnya, seolah perempuan lain akan mengambil apapun miliknya meskipun hal yang dia miliki berpotensi melukainya.
Ketika saya mengamati pola prilaku aneh teman-teman perempuan saya, ternyata kebanyakan perempuan itu memang senang disakiti, semakin disakiti maka rasa sayang, obsesi dan ambisinya malah semakin menjadi-jadi. Para perempuan diam-diam menikmati rasa sakit hati. Saya tak tau pasti apa penyebabnya, entah karena perempuan itu memang sudah baperan sejak orok atau ada pengaruh dari drama korea dan sinetron menye-menye yang menyajikan dunia yang hyperreal. Apabila ada tesis yang mengatakan “perempuan itu selalu benar dan maunya menang sendiri” itu tidak sepenuhnya benar, buktinya masih banyak perempuan yang rela menanggung luka batin gara-gara sering disakiti dan tetap bertahan demi ce-i-en-te-a, cinta.  Selain bodoh ternyata perempuan itu punya hal lain yang bisa menjadi boomerang, perempuan itu lembut dan pemaaf. Coba saja buat dia menangis sejadi-jadinya, lalu sejam kemudian cobalah kalian para laki-laki merayu dan meminta maaf pada para perempuan, saya yakin – haqul yaqin, jika perempuan akan  dengan mudah memaafkan salah kalian para kaum adam.
Sebenarnya, yang selalu jadi penyebab utama bumi percintaan gonjang-ganjing adalah perkara “kebebasan”. Para laki-laki ingin hidupnya dilimpahi cinta namun tetap bebas kongkow nonton bola tengah malam, clubbing sampai pagi, atau bergaul dengan teman-teman yang seksi. Namun sayangnya, perempuan akan nyereweti sampean dengan alasan cinta, perempuan cenderung possesif dan memegang teguh prinsip “what’s mine is mine”, perempuan akan mendadak bertaring serigala ketika tahu sang pacarnya chatting dengan teman perempuannya.  Begitupun sebaliknya, laki-laki akan ngambek jika tahu pacarnya chatting dengan laki-laki lain, ngambek jika pacarnya lama membalas line, BBM atau WA darinya. Laki-laki pun biasanya suka mendadak sinis dengan teman laki-laki pacarnya yang goodlooking.  Laki-laki maupun perempuan sama-sama mirip warga yang harus melapor 1x24 jam pada ketua RW setempat, setiap pasangan harus tau posisi masing-masing sedang berada dimana, dengan siapa, sedang apa, sudah makan atau belum, nanti pulang jam berapa dan sederet pertanyaan lainnya.
Sejuta masalah yang berakar dari satu induk perkara yaitu ‘kebebasan’ kiranya bisa diselesaikan dengan dibantu oleh konsep kebebasan yang ditawarkan Jean Paul Sartre. “Manusia terkutuk bebas” begitu kira-kira bunyi dalil dari tuan Sartre. Manusia menikmati kutukannya untuk menjadi bebas. Manusia bebas berfikir, bebas bertindak namun jangan lupa manusia pun tidak pernah terbebas dari tanggung jawab. Jika belajar dari tuan Sartre, artinya kita perlu membebaskan pasangan kita karena memang pada hakikatnya semua manusia itu bebas. Tak ada yang lebih menyedihkan dari kebebasan yang dikebiri.
Pada akhirnya, mencintai seseorang dengan segala kelemahannya adalah hal yang termudah yang bisa dilakukan, namun mencintai seseorang dengan segala kemerdekaannya? Kita coba sama-sama buktikan saja, apakah memang benar ada cinta yang merdeka atau cinta memang harus hadir dengan syarat melepas ‘kutukan kebebasan’.



PS: geli ya pake saya-saya-an. 

No comments:

Post a Comment